Ada beberapa pertanyaan yang terlontar dari beberapa sahabat tentang
cara saya mengatasi “demam panggung” saat saya harus mempertunjukan aksi
mentalis saya di panggung atau di depan penonton. Mungkin tulisan ini
(yang saya susun berdasarkan pengalaman pribadi) dapat memberikan
gambaran singkat tentang mengatasi demam panggung yang biasa dialami
oleh setiap pekerja panggung (PERFORMER -entah itu pemusik, penari,
pemain teater atau bahkan pesulap-).
Kita sebagai pekerja panggung sering mengalami hal yang satu ini
“Demam Panggung”, hal ini tidak tergantung pada jam terbang si pekerja
panggung itu, seorang pekerja panggung yang sudah makan asam garamnya
menyajikan pertunjukan di atas panggung masih tetap mengalami
permasalahan ini, karena setiap kali hendak naik panggung timbul
perasaan “nervous” atau grogi dan berujung pada tindakan atau aksi
panggung yang tidak jelas. bagaimana mengatasinya itu ?
Berikut adalah tips untuk menangani rasa grogi itu:
1.Pahami bahwa perasaan grogi adalah energi positif.
Apa yang dirasakan saat grogi? Dada berdebar-debar, keringat dingin
mengucur, bibir bergetar, dan darah seolah mengalir lebih cepat. Pahami
bahwa semua itu adalah sebuah dorongan energi yang meluap dari dalam
diri kita. Tidak ada yang salah pada energi itu. Ia perlu disalurkan
secara positif. Ia semestinya menjadi bahan bakar yang mendorong
presentasi kita lebih baik. Kita bisa menggunakan energi itu untuk
memantapkan penampilan kita. Dan biasain sedikit bergoyang supaya
semuanya jadi stabil.
2.Bersikaplah nothing to loose.
Keinginan kita untuk bersikap sebaik-baiknya mendorong munculnya
perasaan grogi. Secara negatif, pikiran kita biasanya terbebani oleh
ketakutan untuk membuat kesalahan, kekhawatiran akan gagal, kecemasan
bila melakukan kekonyolan, dan berbagai bayangan-bayangan negatif
lainnya. Sebelum kita bisa menggunakan energi grogi itu secara positif,
maka terlebih dahulu kita harus menetralisir emosi-emosi negatif
tersebut. Bersikaplah “nothing to loose”; tak sesuatu yang patut kita
takutkan. Bila toh kita gagal, maka tidak sesuatu yang harus menjadikan
kita begitu kehilangan.
3.Tenangkan diri.
Sementara kita menunggu giliran, atur nafas. Tarik nafas dalam-dalam,
keluarkan lambat-lambat. Keluarkan energi yang meletup-letup dalam dada
anda melalui hembusan nafas yang teratur. Tenangkan pikiran dan emosi.
Bila perlu pejamkan mata. Kumpulkan energi itu sebaik-baiknya. Jangan
biarkan mengganggu ketenangan jiwa.
4.Kerahkan energi.
Lepaskan energi itu dari “kekangannya” . Bila para audiens memberi
appalus pada penanpil sebelumnya, maka kerahkan energi dengan memberikan
applaus yang tak kalah meriah. Berdirilah dengan sigap. Berjalanlah
dengan tegap dan mantap. Bila perlu hembuskan nafas lepas sambil
berteriak kecil, “yes”. Atau turut bertepuk tangan menyambut applaus
dari audiens. Lakukan apa-apanya dengan sikap tegas. Biarkan energi itu
mengalir dalam gerakan.
5.Berbicaralah dengan keras dan lantang.
Bila kita berbicara lambat, maka bibir kita akan semakin gemetar, suara
pun bergetar. Salurkan rasa grogi melalui suara yang keras dan lantang.
Suara keras bukan hanya dapat mengatasi kecemasan, namun jugasarana
menyalurkan energi tersebut. Ada baiknya menghafal teks pertama, namun
tetap bersikap wajar.
6.Diam.
Kita dapat menyalurkan ketegangan dalam diri pada para audiens, yaitu
dengan memulai presentasi dengan diam beberapa detik. Biarkan ketegangan
terserap dan jadi ketegangan audiens. Bila merasa ketegangan di audiens
sudah cukup meninggi, mulailah pertunjukan dengan sebuah pembukaan yang
kuat, tajam dan lantang.
7.Lontarkan humor yang wajar.
Lenturkan kegugupan dengan sebuah humor yang wajar. Kita memang perlu
merencanakannya dengan baik, namun jangan sampai kehilangan
spontanitas. Dan, humor terbaik yang tidak akan melukai perasaan siapa
pun adalah humor tentang diri kita.
di luar itu, berlatih… berlatih… dan berlatih, adalah kunci utama
menghadapi masalah “Demam Panggung”. ingat “Perfect Practice Makes
Perfect Performance !” bukan hanya “Practice Makes Perfect Performance”
Jadi , sekarang giliran kita untuk mencoba. Dalam satu buku,
dikatakan bahwa lebih baik dicambuk dari pada berbicara di depan publik,
tapi begitu mencoba, maka lebih baik ditembak dari pada berhenti .
Jadi, give it your best Shot !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar